M A K A L A H
TOKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
OLEH
NAMA : MARDIANI
NIM :
1349041001
KELAS : A
PROGRAM STUDI
PG. PAUD
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
Integrasi
TIK dalam Dunia Pendidikan (PAUD)
1. Judul
“Integrasi Teknologi Komunikasi dan Informasi dalam
Proses Pembelajaran dan Kesenjangan Penggunaan TIK di Indonesia”
Setelah membaca artikel ini, menurut
saya pemilihan judul ini kurang tepat dengan isi dari artikel ini. Isi dari
artikel lebih mengarah kepada kesenjangan SDM dan masalah infrastuktur dalam
pengintegrasian TIK. Sehingga, hemat saya mungkin lebi tepat kalau judul dari
artikel ini adalah “Kesenjangan Integrasi TIK di Indonesia”.
2. Content
Berdasarkan artikel yang diposting
oleh Putriya, menurut saya inilah fakta yang dihadapi oleh negara Indonesia.
Dimana ini merupakan tanggung jawab kita, sebagai generasi Indonesia agar mampu
menjadi penerang terhadap teman-teman guru kita di segala penjuru Indonesia
yang masih belum mampu menggunakan fasilitas ICT agar dapat menggunakannya dalam proses belajar mengajar, entah itu
sebagai media, ataupun cara kita untuk berbagi pengalaman mengenai pendidikan.
Saya sependapat dengan artikel ini
yang mana terdapat dua masalah pokok dalam pengintegrasian ICT di Indonesia
adalah (1) sumber daya manusia yang belum mencapai tingkatan di era globalisasi
dan (2) infrastruktur (biaya yang mahal) yang belum memadai.
Di era globalisasi ini, bukan hanya
masyarakat Indonesia yang dituntut untuk mampu menggunakan teknologi, siapapun
yang ingin maju dan berkembang, maka menjadi sebuah keharusan adalah mampu
bersaing di era ini. Karena era globalisasi ini merupakan era persaingan. Siapa
yang mampu bersaing dan menang maka dialah yang maju.
Masalah SDM, dalam hal ini adalah
kualitas guru. Guru-guru kita ada yang beranggapan bahwa di jaman mereka
sekolah dulu tidak tersedia fasilitas TIK, jadinya banyak di antara mereka yang
tidak mampu mengoperasikan komputer, dan perangkat-perangkat lain dalam ICT. Sehingga dampak dari masalah ini adalah
pembelajaran menjadi membosankan. Padahal banyak sekali situs-situs pendidikan
yang bisa mereka akses di internet, mereka bisa menambah wawasannya melalui ICT
ini, bisa sharing dengan guru-guru lainnya lewat media online.
Masalah infrastruktur, saya pikir
ini menjadi tanggung jawab pemerintah kita. Bagaimana kesiapan dan kesanggupan
pemerintah dalam mengintegrasikan, memeratakan pembelajaran melalui ICT, demi
membangun generasi Indonesia yang melek Tekhnologi.
3. Penggunaan
dan pemilihan kata
Penggunaan dan pemilihan kata dalam
artikel ini saya pikir sudah sesuai dengan acuan dalam membuat sebuah artikel,
yakni tidak terdapat banyak istilah asing yang mungkin bisa tidak dipahami oleh
pembaca. Mengingat yang membaca posting artikel ini adalah siapa saja yang
berbeda latar belakang, yag mungkin tingkat pemahaman tiap orang itu
berbeda-beda.
KETERKAITAN ICT DENGAN ANAK USIA DINI
Bagaimana cara pemberian IT
pada Anak Usia Dini?
Teknologi bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda,
yang memiliki sisi positif dan negatif. Sehingga implementasinya pun akan
berbeda pada setiap usia perkembangan anak.
Pada anak usia dini 0 – 8 tahun sesuai dengan konvensi
anak dunia, serta 0 – 6 tahun menurut konsep pendidikan yang ada di Indonesia,
maka banyak cara mengenalkan teknologi pada anak usia dini, yaitu :
1. Usia 0 – 2 tahun: Pada perkembangan anak usia ini,
anak mulai belajar mendengar dan mengenal sekitarnya, dari
rangsangan-rangsangan yang ditimbulkan melalui gerakan, serta suara.
Kemudian anak mulai menirukan ketika mereka mulai belajar berbicara.
Pemberian IT pada usia anak demikian, dapat melalui multimedia dengan cara
diputarkan lagu-lagu rohani atau lagu anak. Mengenalkan warna juga dapat
melalui multimedia dengan memutarkan film-film kartun anak, yang tentunya
mendidikan. Mengapa? Karena film-film kartun saat ini pun memiliki unsur warna
yang beragam, sehingga anak dapat mengenalnya walau tidak sekaligus, tetapi
warna-warna yang dominan. Hal ini pun dapat membantu pembentukan karakter anak.
2. Usia 3 – 4 tahun: Pada usia ini, anak mulai
menggunakan kalimat yang hampir lengkap, hal ini dapat dilihat dari cara
mereka menanyakan sesuatu hal. Menurut Piaget, cara anak mengajukan pertanyaan
menunjukkan perkembangan kognitif seorang anak. Pada anak yang berasal dari
latar belakang orang tua otoriter, anak kurang belajar berbicara,
ketimbang dalam keluarga yang demokratis, dimana anak bukan saja belajar
“mendengar” tetapi juga “didengar”. Oleh karenannya penting
diberikan IT melalui multimedia, dengan cara seperti pada usia anak 0 – 2
tahun, tetapi cara pembelajarannya sedikit meningkat disesuaikan dengan usia
anak yang telah dapat menerima rangsangan lebih banyak. Misalnya mulai
diajarkan melafalkan ayat-ayat suci Al Qur’an, atau dikenalkan cerita-cerita
Kitab Suci melalui film-film, tentu saja perlu pendampingan orang tua sehingga
dapat terlihat sejauh mana anak mampu untuk belajar. Semakin banyak
kesempatan anak belajar untuk berbicara, dapat membantu anak menumbuhkan rasa
percaya dirinya sehingga pada usia sekolah mereka dapat mengenalkan dan
mengungkapkan dirinya secara lisan.
3. Usia 5 – 6 tahun: Pada usia ini, pengenalan dunia
IT sudah lebih meningkat. Pengenalan dapat berupa pengenalan perangkat keras
komputer (hardware) yang bisa dilihat dan dipegang langsung oleh anak, misalnya
: CPU, Monitor, Mouse, Keyboard dan Printer. Pengenalan perangkat keras
ini juga dilengkapi dengan penjelasan fungsi dari masing-masing alat dengan
cara langsung dipraktekkan (learning by doing).
4. Usia 7 – 8 tahun: pada usia ini, pengenalan dunia
IT sudah masuh pada tingkat program interaktif, dimana anak sudah bisa
berinteraksi dengan program aplikasi pembelajaran.
Dampak Negatif yang ditimbulkan
1. Efek radiasi monitor yang perlu diwaspadi.
2. Jarak pandang yang terlalu dekat dan pencahayaan
yang kontras dapat mengganggu indera penglihatan anak.
3. Pengaturan waktu penggunaan komputer. Pada anak
usia dini sebaiknya waktu penggunaan 1 – 2 jam sehari.
4. Bermain bersama teman sebaya perlu diperhatikan,
sebagai mahluk sosial, manusia membutuhkan orang lain.
Komputer dan Kecerdasan Intektual
dan Emosional
Penelitian tentang pengaruh komputer terhadap
perkembangan intelegensi telah banyak dilakukan oleh para pakar. Hasilnya
diperoleh bahwa penggunaan komputer secara cerdas akan secara timbal balik
mempengaruhi kecerdasan. Komputer mampu memenuhi rasa ingin tahu manusia. Di
samping itu, kecepatan, kecermatan, keterkinian informasi dapat diperoleh
melalui sistem jaringan komputer. Dengan demikian terjadi pengayaan fungsi
otak, yang pada gilirannyameningkatkan produksi sel neuro glial, yaitu sel
khusus yang mengelilingi sel neuron, sehingga menambah aktivitas sel neuron.
Mengingat bahwa ”pabrik otak” itu diwujudkan sebagai hasil interaksi antar
cetak biru genetis dan pengaruh lingkungan. Menurut Clark bahwa otak berfungsi
hanya 5%, sehingga sebagian besar informasi tidak digunakan. Pada gilirannya
kerja fungsi intelegensi yang bersumber dari otak secara timbal balik
dipengaruhi dan mempengaruhi pembelajaran, akan dipersoalkan sampai dimana
pengaruhnya dalam peningkatan kecerdasan emosi pada anak.
Dampak Komputer terhadap
Perkembangan Intelegensi
Riset yang dilakukan terhadap pengaruh komputer
terhadap perkembangan intelegensi diperoleh pengaruh yang positif dari
keduanya. Hal tersebut karena ”kerjasama’ antara komputer-otak dan intelegensi
yang satu dengan lainnya mendorong manusia untuk makin tahu memenuhi rasa ingin
tahunya, yang merupakan sifat khas manusia. Komputer dengan jaringannya dalam
kehidupan kini tidak terpisahkan dari berbagai kepentingan untuk memperoleh
informasi yang cepata, cerman, lengkap, dan aktual. Dengan demikian akan
membawa kita secara amat signifikan dalam menyelesaikan berbagai persoalan
berkat informasi yang dihadapi.Dengan demikian tidak salah jika penggunaan
komputer dengan program yang sesuai dengan umur anak-anak dapat dilakukan.
Intelegensi Emosional
Goleman (1996) dalam bukunya Emotional Intelligence
menjelaskan bahwa dalam kehidupan mental seorang anak ada dua aspek, yaitu
rasio dan emosi, yang masing-masing tidak pernah berdiri secara terpisah,
melainkan dihayati secara bersamaan, bercirikan pemahaman dan kesadaran yang
berasal dari otak seseorang; sedangkan emosi yang bersifat kuat dan impulsif
bersumber dari hati sanubari atau bahkan juga dari hati nurani seseorang.
Emosi merupakan suatu kondisi tergerak untuk berbuat,
dengan demikian, emosi memiliki beberapa komponen yaitu gerak untuk bertindak,
menghayati perasaan yang bersifat subjektif, dan kesadaran tentang emosi itu
atau dengan kata lain, memiliki unsur subjektif, perilaku, fisiologis.
Leventhal, mengalihkan paradigma tersebut dalam
menjelaskan rasio dan emosi yang terkait dengan information processing sebagai
berikut : ada 4 sistem yang terintegrasi dalam model emosi ini, yaitu 1) interpretasi
sistem dalam mewujudkan penghayatan emosi, 2) sistem ekspresif, yang merupakan
umpan balik yang menandai kualitas subjektif emosi, 3) sistem tindak
instrumental dan 4) sistem reaksi jasmaniah.
Teori ini
didasarkan atas tujuh asumsi, yaitu 1) kajian emosi harus beranjak dari laporan
verbal pengalaman subjektif, 2) kondisi emosional adalah suatu bentuk
kebermaknaan, sehingga kalau kognisi adalah makna, emosi membentuk kognisi, 3)
ada berbagai bentuk kognisi abstrak, 6)sistem kebermaknaan berkembang dan
berubah, 7)perlu sistem makna khusus.
Pen penerapan
TIK dalam Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah
a. TIK sebagai
sumber belajar
b. TIK
sebagai media pembelajaran
TIK Sebagai sumber belajar :
Menjawab
Kebutuhan Informasi :
-
Mengintegrasikan TIK sebagai sumber
belajar
-
Memastikan alamat-alamat situs
yang akan dikunjungi
-
Mengembangkan LKS berbasis PBK
-
Membuat lembar refleksi diri
Layanan Yang Cepat dan Murah meliputi;
-
Meninggalkan
kebiasaan satu sumber belajar
-
Menggunakan ANEKA sumber
belajar
-
Mengefektifkan penggunaan internet
Informasi Terkini
-
Menyediakan informasi terkini/baru
-
CEPAT ( Terkokneksi ke semua
sistem jaringan perpustakaan )
-
TERKINI ( Informasi secara teratur diperbaharui )
TIK sebagai media Pembelajaran :
Tujuan
utamanya adalah Agar pesan yang disampaikan mudah dimengerti oleh peserta didik.[1][3]:
Tujuan
TIK sebagai media pembelajaran:
-
Memberi pengalaman belajar yang berbeda
-
Menumbuhkan sikap dan keterampilan BTI
-
Menciptakan situasi belajar menyenangkan
-
Menjadikan belajar lebih efektif, efisien dan bermakna
-
Membuka peluang belajar dimana saja dan
kapan saja
-
Memberikan motivasi belajar kepada siswa
-
Mejadikan belajar sebagai kebutuhan
Tujuan utama TIK dalam Pembelajaran adalah
agar pesan yang disampaikan mudah dimengerti oleh
peserta didik .
Pembelajaran bebasis TIK adalah Suatu pendekatan dalam pembelajaran yang
mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sumber
belajar dan sebagai medium penyampaian
pesan dalam pembelajaran.
Fungsi pembelajaran TIK pada anak usia dini
Fungsi Pembelajaran TIK pada anak usia dini
Dalam Era globalisasi sekarang ini,
pemerintah sedang menggalakkan pentingnya pendidikan anak usia dini. Untuk
menciptakan generasi-generasi yang lebih unggul, juga nantinya mampu bersaing
tinggi kelak ketika mereka dewasa dan juga tidak melupakan nilai-nilai moral
dan budaya bangsa Indonesia. Karena anak usia dini merupakan masa golden age.
Dimana terbentuknya pertumbuhan dan perkembangan otak pada masa-masa usia dini
sekitar 0-8 tahun mencapai 80% pertumbuhan dan perkembangan pada otak manusia.
Ibaratnya sebuah spon mereka mampu dan cepat menyerap ilmu atau apapun yang
mereka terima, yang diberikan lingkungannya pada masa pertumbuhan dan
perkembanganya.
Akan tetapi kita tidak boleh
melupakan tugas dan hak kewajiban anak yaitu bermain sambil belajar. Karena
dengan suasana bermain seraya belajar tidak membuat anak merasa ditekan ataupun
tertekan pada situasi dan kondisi mereka yang sedang mempelajari diri dan juga
lingkungannya. Melainkan anak akan mendapat kemudahan pada proses belajar dalam
suasana bermain, yang menyenangkan dan tanpa tekanan. Itulah sebabnya dikatakan
dunia anak adalah dunia bermain.
Tidak bisa kita pungkiri dalam segala
bidang TIK sudah menjadi kebutuhan pokok pada kehidupan kita. Termasuk
dalam dunia pendidikan. TIK memiliki peran penting dalam sarana dan prasarana
pembelajaran. Tujuan pembelajaran TIK pada anak usia dini adalah mengenalkan
teknologi informasi dan komunikasi. Untuk memudahkan anak usia dini dalam
membantu proses belajar dengan cara yang menyenangkan, kreatif, imaginative
dengan memakai TIK sebagai sumber belajar, seperti CD interaktif yang kini
semakin banyak berkembang dalam modifikasi isi dari pembelajarannya. Contohnya
: belajar berhitung, belajar membaca, mengenal huruf, mengenal warna, geometri,
bentuk, juga mengenal lingkungan,binatang dan tumbuh-tumbuhan serta
lain-lainnya. Ada pula games-games yang menyenangkan anak-anak tetapi juga
syarat dengan pembelajaran seperti puzzle huruf. Sehingga yang tanpa disadari
anak, mereka belajar banyak mengenal kosakata dalam bahasa inggris. Tau
bagaimana berhitung. Yang pada masa sekarang ini banyak orang tua memaksakan
anak belajar tanpa memikirkan kebutuhan dan hak dalam dunia anak yaitu bermain.
Dengan adanya sarana dan prasarana TIK sebagai sumber belajar menjadikan
pembelajaran menjadi lebih atraktif juga kreatif. Membuat anak menjadi lebih
tertantang untuk bermain sambil belajar.
Anak-anak usia dini sangat cepat dan mudah sekali
belajar seraya bermain, yang terkadang kita sebagai orang tua atau juga
sebagai pendidik anak usia dini. Tidak boleh melupakan pengawasaan dalam
pembelajaran yang menggunakan sumber belajar TIK. Agar anak-anak tidak jauh
melenceng dari pengenalan pembelajaran yang kita harapkan pada tujuan semula
menjadikan TIK sebagai sumber belajar yang cocok dan pantas bagi anak usia
dini. Karena sebagai mana kita tau. selain TIK memiliki dampak positif dalam
membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam belajar, juga memiliki dampak
negative jika kita kurang ataupun lengah terhadap pengawasan dalam pembelajaran
yang menggunakan TIK. Oleh karena itu hendaknya segala sesuatu yang berkaitan
dengan perkembangan pembelajaran TIK, anak perlu pengawasan dan pembelajaran
yang seimbang dengan jiwa dan kebutuhan pembelajaran, sehingga anak ataupun
peserta didik tidak salah menggunakan pemanfaatan perkembangan teknologi
pembelajaran.